HOME





BENCANA GEMPA BUMI
DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN JAWA TENGAH
 
Maha suci Allah yang telah menciptakan alam semesta dengan kekuatan Ilmu-Nya dan mempergilirkan kedaulatan kekuasaan diantara makhluk-Nya. Dia jualah yang telah dan senantiasa akan menciptakan kematian dan kehidupan dengan tujuan guna menyeleksi diantara hamba-hamba-NYA siapa yang dapat mewujudkan perilaku peradaban ihsan.
 
Pada hari Sabtu, tanggal 27 Mei 2006 pagi hari selepas waktu subuh, kembali Allah pembimbing semesta kehidupan telah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan menggerakkan secuil lempeng bumi ciptaan-Nya yang berada di daerah Kabupaten Bantul sehingga menimbulkan gempa tektonik berskala 6,3 Richter. Gempa di Daerah Istimewa Yogya tersebut bukan saja telah merenggut ribuan nyawa anak bangsa Indonesia melampaui bilangan 5000-an, melainkan juga melumpuhkan rumah sakit yang berada disekitar daerah yang tertimpa gempa. Rumah sakit lumpuh, tidak mampu menolong pasien yang jumlahnya ribuan karena memang sangat jauh melampaui kapasitas dan fasilitas rumah sakit.
 
Dapat dibayangkan, bahwa secara serentak dan mendadak rumah sakit itu harus menampung ribuan warga yang patah tulang dan luka-luka berat akibat ditimpa reruntuhan bangunan. Yang terjadi kemudian adalah banyak pasien yang terpaksa ditampung di taman dan halaman rumah sakit dengan tenda darurat, bahkan di tempat-tempat parker, karena bangsa dan gang rumah sakit telah penuh sesak. Yang lebih menyedihkan rumah sakit kekurangan berbagai macam obat-obatan yang sangat mendesak untuk menyelamatkan korban gempat, yaitu obat luka, antibiotic, serta yang berkaitan dengan ortopedi dan operasi seperti infuse dan tersedianya darah.
 
Kembali Allah menggerakkan ciptaan-Nya berupa air yang menjadi unsur dasar kehidupan untuk mengujicoba siapa diantara hamba-hamba-Nya yang mau berbuat baik memenuhi kepastian Ilmu-Nya. Tidak lama setelah bencana Yogyakarta, muncul lagi bencana banjir di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, yang menewaskan ratusan orang dan menelan harta benda. Kemudian banjir di Gorontalo yang melumpuhkan pelabuhan sehingga kegiatn bongkar muat terhenti sama sekali. Kemudian dalam akhir bulan Juni 2006 terdengar berita tentang bencana di Kalimantan yang menyebabkan kerusakan amat parah pada sarana transportasi darat, sungai, dan laut. Masih di Kalimantan, puluhan ribu penduduk di dua kapupaten di Kalimantan Selatan, Kabupaten Banjar dan tanah Bumbu terkepung air selama beberapa minggu karena meluapnya berbagai sungai. Mereka saudara-sadaura kita terancam mati kelaparan karena seluruh sarana transportasi yang menjangkau terputus total.
 
Kita menyaksikan bencana Yogyakarta yang begitu menggemparkan dan menggetarkan, kita pun sungguh merasa risau melihat bagaimana bencana yang mengancam kehidupan puluhan ribu manusia di Kalimantan Selatan. Kita mengetahui bahwa saudara-saudara kita di Kalimantan memiliki daya tahan luar biasa untuk mengatasi sendiri bencana yang mencekik. Kita tidak bisa memilah-milah bencana dalam kategori tertentu. Kategorisasi dapat menjadi bijaksana apabila dilakukan untuk keperluan mengukur dosis penanggulangan. Namun, kategorisasi dapat menjadi kejahatan apabila berdampak pada pengalihan tanggungjawab. Dalam persepektif kemanusiaan, seorang anak manusia yang mati di Aceh akibat tsunami sama pentingnya dengan 5000 orang yang meninggal di Yogyakarta akibat bencana gempa bumi. Ribuan orang yang tertimpa bangunan di Bantul sama pentingnya dengan ribuan orang yang terkurung banjir di Kalimantan. Mereka adalah tidak lain dan tidak bukan warga Negara Indonesia yang patut memperoleh perhatian dan perlindungan maksimal dari Negara, juga dari kita sesame anggota bangsa dan warga Indonesia yang berada di Negara Brunei Darussalam
   
Mengapa kemiskinan berurat dan berakar di negeri kita? Mengapa bencana silih berganti menimpa anggota bangsa kita?: Apakah telah terjadi tindak meremehkan harkat dan hakikat kemanusiaan? Mari kita berdoa memohon kepada Allah agar bangsa kita diangkat harkat dan martabatnya menjadi bangsa yang hidup merunduk sujud kepada-Nya. Dan amal nyata sebagai wujud tindakan praktis pragmatis adalah mari membantu saudara-saudara kita yang mendapat musibah untuk meringankan beban mereka.

Copyright (c) August 2006 Embassy of the Republic of Indonesia to Negara Brunei Darussalam