|
KUNJUNGAN
KERJA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL
PROF. DRS.
ABDUL MALIK FADJAR, MSC
DI BRUNEI
DARUSSALAM
TANGGAL 8-10
MARET 2003
________________________________________________
Atas undangan Menteri Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Brunei
Darussalam untuk menghadiri perayaan HUT Majelis Bahasa
Brunei-Indonesia-Malaysia (MABBIM) ke-30 yang dirangkaikan dengan
Sidang MABBIM ke-42 dan Sidang Majelis Sastera Asia Tenggara (MASTERA)
ke-8 tanggal 9-14 Maret 2003 di Brunei Darussalam, Menteri Pendidikan
Nasional RI, Prof. Drs. Abdul Malik Fadjar, Msc dan delegasi Indonesia
berkesempatan menghadiri acara ramah tamah dengan Staf KBRI dan
masyarakat Indonesia di Bandar Seri Begawan bertempat di Wisma Duta
Indonesia tanggal 9 Maret 2003, menghadiri perayaan MABBIM ke-30
tanggal 9 Maret 2003 dan pertemuan dengan Menteri Kebudayaan, Belia
dan Sukan tanggal 10 Maret 2003.
Pada kesempatan pertemuan di Wisma Duta Indonesia, Menteri Pendidikan
Nasional RI memberikan penjelasan mengenai siruasi dan konsisi
terkini di tanah air yang meliputi al. :
Krisis yang melanda Indonesia
Masalah utama yang
dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah timbulnya krisis kepercayaan
di berbagai bidang. Situasi saat ini di tanah air ditandai oleh adanya
indikasi lunturnya nilai-nilai kebersamaan, penghargaan dan identitas
diri untuk menerima perbedaan antara satu kelompok dengan kelompok
lainnya. Maraknya unjuk rasa saat ini antara lain disebabkan kurangnya
kepercayaan dan suburnya rasa
Akeakuan/egoisme@ oleh satu pihak kepada
pihak lainnya. Krisis kepercayaan juga timbul disebabkan oleh
menurunnya sikap nasionalisme akibat pendalaman nilai-nilai agamis
yang rendah dan mengakibatkan terbentuknya pola pikir yang cenderung
destruktif (negative thingking), sehingga menyebabkan masyarakat
Indonesia saat ini cenderung menggunakan kekerasan sebagai jalan
pemecahan masalah.
Penyebab timbulnya krisis kepercayaan a.l. disebabkan terbentuknya
pola pandang masyarakat Indonesia mengenai konsep kemajuan bangsa
berdasarkan kepemilikan atas benda-benda riel/fisik (materialisme).
Sesuai konsep dan kenyataan bahwa tolak ukur keberhasilan suatu bangsa/negara
dinilai dari kesuksesannya untuk menghargai sejarah, budaya dan
tradisi serta keimanan, dan menguasai ilmu pengetahuan. Hal-hal ini
yang cenderung menurun dimiliki bangsa Indonesia saat ini.
Krisis kepercayaan juga timbul a.l. disebabkan tingkah laku sebagian
pejabat di Indonesia yang tidak dapat memberikan keteladanan untuk
menjadi panutan masyarakat. Contohnya banyak pejabat dan orang-orang
Indonesia yang masih sering berfoya-foya di luar negeri dalam situasi
negara yang krisis saat ini. Untuk itulah perlunya diterapkan konsep
hidup sederhana sebagai panutan bangsa.
Masalah yang dihadapi
bangsa Indonesia saat ini sangatlah kompleks, salah satunya sebagai
akibat timbulnya
Aeforia@ transparansi di segala
bidang. Adanya kebijakan otonomi daerah menimbulkan akibat maraknya
keinginan untuk membentuk propinsi/kabupaten baru. Di bidang politik
ditandai oleh banyaknya pertikaian antar partai-partai politik yang
situasinya jauh lebih tidak kondusif dibandingkan dengan situasi di
tahun 1955, ketika pemilihan umum dengan sistem multi partai
diberlakukan.
Pendidikan juga dituding gagal dalam menyelesaikan krisis saat ini.
Masyarakat menganggap Lembaga Pendidikan Nasional bertanggungjawab
sehingga terciptanya krisis sangat kompleks di Indonesia. Mendiknas
RI dalam kesempatan ini menyampaikan secara langsung penghargaan
kepada beberapa tenaga pendidik Indonesia (dosen-dosen di UBD) atas
usaha mereka secara tidak langsung membuat pendidikan Indonesia diakui
di Brunei Darussalam.
Pembangunan citra Indonesia
Krisis di tanah air berdampak secara langsung berdampak pada
menurunnya citra Indonesia di Luar negeri. Tugas paling berat yang
diemban baik sejak pemerintahan Presiden Habibie, Presiden Abdurrahman
Wahid dan Pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri adalah
mengembalikan citra Indonesia yang terpuruk. Pengembalian citra
Indonesia ini merupakan tugas berat dan lebih sulit dilaksanakan oleh
Perwakilan RI dibandingkan tugas yang sama dilakukan oleh dengan
lembaga-lembaga resmi lainnya di tanah air. Untuk itu Mendiknas RI
menyampaikan penghargaan kepada Perwakilan RI di luar negeri atas
usaha-usaha pengembalian citra Indonesia selama ini.
Mendiknas RI juga menghimbau khusus bagi masyarakat
Indonesia di Brunei Darussalam untuk terus mempertahankan citra
Indonesia. Ditambahkan bahwa perlunya misi-misi kesenian dan
kebudayaan digalakkan dalam rangka menopang pembangunan citra
Indonesia.
Hal penting ditangani bidang pendidikan
Departemen Pendidikan Nasional RI bertanggung jawab menangani
masalah-masalah yang berkaitan dengan :
- kesiapan bangsa Indonesia menghadapi situasi global saat
ini,
- menjadikan bahasa sebagai salah satu kekuatan regional,
- membentuk
Anational building@.
Dewasa ini Depdiknas RI sedang menggodok kurikulum baru untuk
mengurangi beban siswa dalam memperoleh ilmu pengetahuan (menseleksi
mata pelajaran). Mata pelajaran yang diuji dalam Ebtanas direncanakan
hanya meliputi bahasa, matamatika dan ilmu pengetahuan (science).
Pembinaan masyarakat Indonesia
Mendiknas RI
menyampaikan penghargaan kepada KBRI BSB atas usaha-usaha pembinaan
masyarakat Indonesia di Brunei Darussalam. Secara khusus Mendiknas RI
memuji peranan KBRI BSB sebagai
Akantor lurah@ bukan
Amenara gading@ dalam menjembatani dan
menyelesaikan masalah-masalah warga Indonesia di Brunei Darussalam.
Membentuk funding bagi masyarakat Indonesia
Dalam rangka mengurangi beban masyarakat di tanah air, Mendiknas RI juga
menghimbau masyarakat Indonesia di Brunei Darussalam untuk membentuk
seperti lembaga sosial dalam bentuk zakat, infaq dan shadakah (ZIS)
berdasarkan dana iuran sukarela masyarakat Indonesia, untuk disumbangkan
kepada yang memerlukan di tanah air.
Pertemuan Mendiknas RI dengan Menteri Kebudayaan, Belia dan Sukan
Menteri Agama RI didampingi oleh Duta Besar RI, Yusbar Djamil dan
Kepala Pusat Bahasa Depdiknas RI mengadakan pertemuan dengan Menteri
Kebudayaan, Belia dan Sukan Brunei Darussalam tanggal 10 Maret 2003.
Perayaan HUT MABBIM ke-30
Atas undangan Panitia Peneyelenggara dan sebagai salah satu bentuk
solidaritas persahabatan negara-negara MABBIM, Duta Besar RI dan staf
KBRI BSB bersama-sama dengan delegasi negara-negara MABBIM ikut serta
dalam acara jalan santai/walkaton pada tanggal 9 Maret 2003.
Dalam acara peresmian Sidang MABBIM ke-42 dan MASTERA ke-8, Mendiknas
RI dan rombongan didampingi Duta Besar RI, Yusbar Djamil menghadiri
acara tersebut tangal 9 Maret 2003. Acara tersebut juga menampilkan
musik Perkusi Kerabat Nusantara (KNP Project) dari masyarakat Indonesia
di Brunei Darussalam mewakili Indonesia yang mana grup tersebut
merupakan binaan KBRI BSB. Dalam acara tersebut sasterawan Indonesia,
Ajip Rosidi mendapat penghargaan Mastera sebagai wakil Indonesia dengan
memperoleh uang tunai sebesar B$ 10.000. Dari pihak Indonesia lainnya
yang memperoleh penghargaan MABBIM adalah Dr. Hassan Alwi, Dr. Sugito
Wonodirekso, dan Drs. Hasjmi Dini.
Liputan media massa
Liputan kegiatan Perayaan HUT MABBIM ke-30 dan Sidang MABBIM ke-42 serta
MASTERA ke-8 terlampir. Kegiatan serupa termasuk wawancara khusus
Mendiknas RI juga diliput oleh media massa elektronik (televisi) RTB.
Bandar Seri Begawan, 11 Maret 2003
|
|
|