No.15 /Pensosbud/IV/2005
- Menko
Perekonomian RI, Ir. Aburizal Bakrie
- jadi
Pembicara Utama pada Konferensi Bisnis Nasional
- di Brunei
Darussalam
-
-
-
Menko Perekonomian
RI, Ir. Aburizal Bakrie mengadakan kunjungan ke Bandar Seri Begawan
tanggal 27 April 2005 untuk memenuhi undangan Asia INC. Forum. Asia
INC. Forum mengundang Menko Perekonomian RI, Ir. Aburizal Bakrie
untuk menjadi pembicara utama dalam Konferensi Bisnis Nasional
Brunei Darussalam tanggal 27 April 2005.
-
-
Konferensi Bisnis
Nasional ini dihadiri oleh 300 delegasi dari berbagai negara dan
dinilai sangat prestisus mengingat para delegasi berasal dari
berbagai kalangan pengusaha besar dan kalangan pemerintah.
Penunjukan Menko Perekonomian RI, Ir. Aburizal Bakrie sebagai
pembicara dinilai sangat tepat karena disamping menjabat sebagai
Menteri yang mengurus bidang perekonomian juga karena pengalaman
beliau yang luas sebagai mantan praktisi ekonomi. Ceramah Menko
Perekonomian RI, Ir. Aburizal Bakrie tersebut mendapat sambutan
hangat ditandai dengan banyaknya tanggapan yang disampaikan pada
saat sessi tanya jawab.
-
-
Dalam ceramahnya
yang berjudul “The Rebuilding of Indonesia: Opportunities for New
Partnership”, Menko Perekonomian RI, Ir. Aburizal Bakrie menyatakan
bahwa Indonesia saat ini sedang memasuki babak baru menjadi negara
yang lebih demokratis, lebih sejahtera dan lebih stabil. Kondisi
perekonomian Indonesia menunjukkan perbaikan berarti. Pada tahun
2004, kondisi perekonomian lebih baik dari yang diprediksikan
sebelumnya. Tingkat Inflasi rendah, nilai suku bunga turun dan indek
harga saham gabungan untuk pertama kalinya mencapai level tertinggi.
Untuk pertama kali pula sejak tahun 1997, tingkat pertumbuhan
investasi mencapai 13,7% dan tingkat pertumbuhan ekspor mencapai
18,3%. Oleh karena itu, para pengamat ekonomi termasuk IMF dan Bank
Dunia percaya bahwa era pertumbuhan tinggi yaitu diatas 6-7%
pertahun bukan lagi menjadi sesuatu yang tidak mungkin bagi
Indonesia tahun-tahun mendatang. Dalam masalah fiskal juga
menunjukkan kecenderungan yang positif bahkan
di Asia,
Indonesia
saat ini menjadi salah satu negara dengan tingkat defisit yang
paling rendah.
-
-
Walaupun indikator
ekonomi makro menunjukkan kecenderungan yang positif, namun
Pemerintah menyadari bahwa reformasi dalam bidang mikro-ekonomi juga
merupakan sesuatu yang sangat penting. Hal itu berarti bahwa
pemerintah harus dapat memperbaiki iklim investasi, membuat
peraturan dan perundangan yang akrab dengan dunia usaha,
menghapuskan ekonomi biaya tinggi, melakukan reformasi sistem
perpajakan dan lain sebagainya. Disamping itu, infrastruktur adalah
merupakan tulang punggung pembangunan yang sangat mendasar. Dari
prediksi pemerintah, untuk mencapai pertumbuhan rata-rata GDP
sebesar 6,6 % pertahun pada 5 tahun mendatang, Indonesia membutuhkan
dana untuk investasi infrastruktur sebesar Rp 1.300 trilyun. Karena
keterbatasan anggaran, pemerintah hanya dapat mengalokasikan dana
sebesar 17% sehingga terdapat kesenjangan yang cukup besar antara
anggaran yang tersedia dengan kebutuhan dana tersebut. Terkait
dengan hal ini Menko Perekonomian RI, Ir. Aburizal Bakrie mengajak
pengusaha di Brunei Darussalam untuk berpartisipasi dalam investasi
pembangunan infrastruktur di
Indonesia.
Bandar Seri Begawan,
28 April 2005
-
|
|